Sisa 14 RT di Jakarta Yang Masih Terdampak Banjir. Hingga Sabtu sore, 25 Januari 2026, masih ada 14 RT di Jakarta yang terendam banjir meski hujan sudah reda sejak kemarin malam. Genangan air yang tersisa terutama berada di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara, dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 150 sentimeter. Data terbaru menunjukkan bahwa dari ratusan RT yang terdampak sejak Rabu lalu, sebagian besar sudah surut berkat pompa dan penurunan debit sungai. Namun, 14 RT ini tetap menjadi perhatian karena air sulit surut akibat faktor topografi rendah, penyumbatan saluran, dan pengaruh rob dari utara. Ribuan warga di kawasan tersebut masih kesulitan beraktivitas, dengan banyak rumah terendam hingga dada orang dewasa. Petugas gabungan terus bekerja untuk mempercepat penurunan air dan mendistribusikan bantuan. BERITA TERKINI
Wilayah yang Masih Tergenang dan Kondisinya: Sisa 14 RT di Jakarta Yang Masih Terdampak Banjir
Dari 14 RT yang tersisa, mayoritas berada di Jakarta Timur, terutama sekitar Kampung Melayu, Cipinang Melayu, dan Pondok Kopi. Di sana genangan masih mencapai 80-120 sentimeter di beberapa ruas jalan utama dan gang sempit. Jakarta Selatan menyumbang beberapa RT di kawasan Jagakarsa dan Lenteng Agung, di mana air berasal dari luapan Kali Krukut dan saluran sekunder yang tersumbat sampah. Jakarta Utara juga punya tiga RT terdampak di sekitar Pluit dan Penjaringan, dipengaruhi rob yang naik bersamaan dengan sisa luapan sungai. Ketinggian air di wilayah ini relatif lebih rendah, sekitar 40-70 sentimeter, tapi cukup mengganggu akses warga karena jalan kecil sering tertutup. Kondisi umum menunjukkan bahwa genangan di RT-RT ini bertahan lebih lama karena lokasi berada di cekungan atau dekat bantaran sungai tanpa drainase memadai. Beberapa warga melaporkan rumah mereka masih terendam hingga lutut di lantai satu, sehingga banyak yang bertahan di lantai atas atau mengungsi sementara ke posko terdekat.
Upaya Penanganan dan Tantangan Saat Ini: Sisa 14 RT di Jakarta Yang Masih Terdampak Banjir
Petugas dari pemerintah kota, TNI, dan relawan masih mengerahkan pompa besar di titik-titik krusial untuk mempercepat penurunan air. Di Kampung Melayu misalnya, beberapa pompa berkapasitas tinggi beroperasi nonstop, meski debit sungai Ciliwung yang masih tinggi membuat hasilnya lambat terlihat. Distribusi bantuan berupa paket sembako, air minum, obat-obatan, dan selimut terus dilakukan menggunakan perahu karet di kawasan yang akses daratnya terputus. Tim kesehatan bergerak dari rumah ke rumah memeriksa kondisi warga, terutama anak kecil dan lansia, untuk mencegah penyakit akibat air kotor seperti diare dan infeksi kulit. Tantangan utama tetap penyumbatan saluran oleh sampah dan sedimentasi yang membuat pompa kurang efektif. Petugas juga harus berhati-hati karena genangan masih berpotensi tercemar limbah rumah tangga. Koordinasi antarinstansi berjalan baik, tapi warga di RT-RT tersisa mengeluhkan proses surut yang lambat dibandingkan kawasan lain yang sudah kering kemarin.
Dampak bagi Warga dan Langkah ke Depan
Bagi warga di 14 RT ini, banjir berarti gangguan besar terhadap kehidupan sehari-hari. Anak-anak tidak bisa bersekolah secara normal, pekerja sulit ke tempat kerja karena jalan utama masih tergenang, dan aktivitas ekonomi mikro seperti warung dan pedagang kaki lima lumpuh total. Banyak keluarga kehilangan perabot rumah tangga dan stok makanan karena terendam lama. Psikologis warga juga terdampak, terutama yang sudah mengalami banjir berulang setiap musim hujan. Pemerintah daerah berjanji akan mempercepat pembersihan saluran dan pengerukan sungai di kawasan rawan setelah air surut sepenuhnya. Program relokasi sementara bagi rumah-rumah paling terdampak juga sedang disiapkan, meski warga berharap solusi permanen seperti normalisasi sungai dan pelebaran drainase bisa segera terealisasi. Saat ini, fokus utama tetap evakuasi warga yang masih terisolasi dan memastikan tidak ada korban jiwa tambahan akibat banjir.
Kesimpulan
Masih ada 14 RT di Jakarta yang terdampak banjir hingga saat ini, terutama di Jakarta Timur, Selatan, dan Utara, dengan genangan yang belum surut sepenuhnya. Meski sebagian besar wilayah sudah kering, kawasan-kawasan ini tetap menjadi prioritas karena kondisi topografi dan drainase yang menyulitkan penurunan air. Upaya pompa, distribusi bantuan, dan pendampingan kesehatan terus dilakukan, tapi warga menanti proses pemulihan yang lebih cepat. Banjir kali ini sekali lagi menegaskan perlunya solusi jangka panjang seperti perbaikan infrastruktur drainase dan pengelolaan sampah yang lebih baik. Semoga dalam beberapa hari ke depan air benar-benar surut, sehingga warga bisa kembali membersihkan rumah dan memulai kehidupan normal. Solidaritas antarwarga dan petugas tetap menjadi kekuatan utama menghadapi situasi seperti ini.