Puncak Musim Hujan hingga Februari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan berlangsung hingga akhir Februari 2026. Fenomena La Niña lemah yang masih aktif ditambah pengaruh bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa membuat curah hujan tetap tinggi dan berpotensi ekstrem di banyak daerah. Hingga akhir Januari ini, banjir bandang, longsor, dan banjir rob sudah menewaskan puluhan orang serta merendam ribuan rumah di Jawa, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara. BMKG memperingatkan bahwa puncak intensitas hujan masih akan terjadi pada Februari, sehingga risiko bencana hidrometeorologi tetap tinggi. REVIEW FILM
Penyebab dan Pola Cuaca: Puncak Musim Hujan hingga Februari
La Niña lemah yang berlangsung sejak akhir 2025 menyebabkan pembentukan awan hujan lebih banyak di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. Suhu permukaan laut di Samudra Hindia selatan Jawa masih di atas 29 °C, ditambah kelembapan lapisan atas yang mencapai 90–98%. Kondisi ini memicu pembentukan awan cumulonimbus masif yang menghasilkan hujan lebat hingga sangat lebat, disertai petir dan angin kencang 50–80 km/jam. Bibit siklon tropis yang masih aktif di selatan Jawa terus memperkuat zona konvergensi angin monsun baratan, sehingga curah hujan kumulatif di zona selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT bisa mencapai 400–700 mm dalam periode 5–7 hari. Gelombang tinggi 4–8 meter juga mengancam pesisir selatan Jawa dan Bali, sementara angin kencang berpotensi merobohkan pohon dan tiang listrik.
Wilayah Rawan dan Dampak yang Sudah Terjadi: Puncak Musim Hujan hingga Februari
Wilayah dengan risiko tertinggi hingga akhir Februari meliputi:
Jawa Tengah selatan dan DI Yogyakarta (Cilacap, Kebumen, Bantul, Gunungkidul)
Jawa Timur selatan (Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang selatan)
Bali (Badung, Gianyar, Denpasar selatan)
NTB (Lombok Tengah, Sumbawa) dan NTT (Kupang, Sumba Timur, Flores Timur)
Sebagian Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu
Hingga 28 Januari, banjir bandang dan longsor sudah menewaskan lebih dari 50 orang di Jawa dan Sumatera. Ribuan rumah terendam, akses jalan nasional terputus di puluhan titik, dan listrik padam di banyak desa. Di Bali dan NTB, banjir rob serta luapan sungai menggenangi kawasan pesisir dengan ketinggian hingga 2 meter. Total pengungsi sementara mencapai lebih dari 60.000 jiwa.
Respons Pemerintah dan Rekomendasi
BNPB telah memperpanjang status siaga darurat bencana di 22 provinsi. Posko gabungan dibuka di tingkat kabupaten/kota, dengan distribusi logistik darurat (makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, tenda) terus digesa. TNI-Polri dikerahkan untuk evakuasi, pembersihan akses jalan, dan distribusi bantuan menggunakan helikopter di daerah terisolasi. Presiden memerintahkan percepatan evakuasi preventif di zona merah dan penyaluran bantuan langsung ke pengungsi. BMKG meminta masyarakat:
Pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG.
Hindari aktivitas di lereng curam, tepi sungai, dan pesisir saat hujan lebat.
Siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat, dokumen penting, dan senter.
Nelayan diminta tunda melaut hingga gelombang reda. Pemerintah daerah diinstruksikan memperkuat peringatan dini dan membersihkan saluran drainase yang tersumbat.
Kesimpulan
Puncak musim hujan hingga Februari 2026 masih menyisakan risiko tinggi banjir bandang, longsor, dan banjir rob di Jawa, Bali, NTB, NTT, serta sebagian Sumatera. Curah hujan ekstrem yang dipicu La Niña lemah dan bibit siklon tropis menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat dan pemerintah daerah. Respons cepat BNPB dan TNI-Polri sudah terlihat, tapi peran aktif warga dalam mengikuti arahan resmi sangat menentukan. Semoga hujan segera mereda dan tidak ada korban tambahan. Cuaca ekstrem memang ujian berat, tapi kesiapsiagaan dan solidaritas bisa menyelamatkan banyak nyawa. Tetap aman di rumah kalau tidak mendesak, dan selalu pantau informasi resmi dari BMKG.