Pedagang Ceritakan Masalah Pasar Kombongan. Pedagang di Pasar Kombongan, Jakarta Pusat, akhirnya bisa bernapas lega setelah pasar yang mangkrak hampir lima tahun direvitalisasi dan diresmikan pada 6 Januari 2026. Namun, di balik peresmian oleh Gubernur Pramono Anung, para pedagang menyampaikan keluhan utama terkait akses masuk yang masih sulit. Mereka berharap masalah ini segera diatasi agar pembeli lebih banyak datang dan dagangan lebih laris. BERITA BASKET
Sejarah Mangkrak yang Panjang: Pedagang Ceritakan Masalah Pasar Kombongan
Pasar Kombongan sempat terbengkalai selama bertahun-tahun karena berbagai kendala, membuat pedagang kesulitan berjualan dan pembeli enggan datang. Revitalisasi akhirnya dilakukan dengan membangun dua lantai yang menampung 121 kios dan 50 los, lengkap fasilitas modern seperti mushala, toilet disabilitas, parkir, dan CCTV. Proses ini menjadi bagian dari program Pemprov DKI menghidupkan kembali pasar rakyat. Saat peresmian, pedagang menyambut baik perubahan fisik, tapi langsung curhat soal hal-hal yang masih mengganjal.
Keluhan Utama Soal Akses Masuk: Pedagang Ceritakan Masalah Pasar Kombongan
Salah satu pedagang, Nimad Tardi, mewakili suara mayoritas dengan mengatakan bahwa akses dari pemukiman sekitar tertutup, terutama karena lintasan kereta api. Sekitar 90 persen pedagang merasakan dampaknya: pembeli, khususnya lansia, kesulitan mencapai pasar. Gubernur Pramono langsung mendengar aspirasi ini dan bertanya apa saja yang perlu diperbaiki agar pasar lebih ramai. Keluhan ini menjadi fokus karena meski bangunan sudah bagus, tanpa akses mudah, omset pedagang tetap rendah.
Harapan Pedagang Pasca-Revitalisasi
Pedagang optimistis dengan fasilitas baru yang lebih representatif, tapi mereka minta tindak lanjut cepat atas masalah akses. Beberapa menyebut penutupan jalur akibat kereta membuat pengunjung berkurang drastis. Pramono menjanjikan pasar ini akan hidup kembali dengan masukan langsung dari pedagang. Harapan mereka sederhana: perbaikan akses agar konsumen dari permukiman terdekat bisa datang tanpa hambatan, sehingga dagangan laris dan pasar benar-benar ramai.
Kesimpulan
Pedagang Pasar Kombongan menyampaikan masalah utama akses masuk saat peresmian pada awal Januari 2026, meski revitalisasi sudah membawa perubahan positif. Keluhan ini jadi pengingat bahwa pembangunan fisik saja belum cukup tanpa dukungan aksesibilitas. Dengan respons gubernur yang langsung mendengar aspirasi, diharapkan solusi cepat datang sehingga pasar benar-benar hidup dan pedagang bisa makmur kembali. Langkah ini bisa jadi contoh bagi revitalisasi pasar lain di Jakarta.