Musda Golkar Sumut Ricuh di Medan, Massa Bentrok. Musda Partai Golkar Sumatera Utara yang digelar di Hotel Grand Inna Medan pada 2 Februari 2026 berubah menjadi kericuhan hebat. Ribuan massa pendukung calon ketua yang berbeda kubu bentrok di halaman hotel dan jalan sekitar Jalan Balai Kota. Bentrokan fisik terjadi sekitar pukul 13.30–15.00 WIB, melibatkan ratusan orang yang saling lempar batu, kursi, dan botol. Polisi anti huru-hara akhirnya turun tangan dengan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan massa. Akibatnya, 18 orang luka ringan, 7 orang diamankan, dan beberapa kendaraan rusak. Musda terpaksa ditunda sementara, dan situasi masih tegang hingga malam hari. INFO CASINO
Kronologi Kericuhan dan Pemicu Utama: Musda Golkar Sumut Ricuh di Medan, Massa Bentrok
Musda dimulai pagi hari dengan agenda pembukaan dan laporan pertanggungjawaban ketua lama. Namun ketegangan sudah terlihat sejak awal karena dua kubu besar yang saling berebut kursi ketua: kubu petahana yang didukung elit Golkar pusat, dan kubu oposisi internal yang mengusung figur lokal populer. Ketika proses pemilihan ketua mulai dibuka sekitar pukul 13.00, massa pendukung salah satu calon merasa ada kecurangan dalam daftar pemilih dan proses verifikasi.
Sekitar pukul 13.30, ratusan orang dari luar venue menerobos pagar hotel sambil meneriakkan slogan “Golkar Rakyat Bukan Golkar Elite”. Bentrokan pecah ketika kedua kubu saling dorong dan lempar batu. Beberapa kursi dan meja di halaman hotel ikut menjadi senjata improvisasi. Polisi yang awalnya hanya berjaga ringan terpaksa naikkan status menjadi pengendalian massa. Gas air mata ditembakkan dua kali, dan water cannon digunakan sekali untuk memukul mundur massa yang mencoba masuk gedung utama. Situasi baru terkendali pukul 15.15 setelah massa bubar paksa dan beberapa pemimpin kubu ditarik mundur oleh aparat.
Korban dan Kerusakan: Musda Golkar Sumut Ricuh di Medan, Massa Bentrok
Total 18 orang mengalami luka ringan, mayoritas akibat benturan batu dan gas air mata. Lima di antaranya dirawat di RS HAM dan RS Mitra Medan karena luka kepala dan sesak napas. Tidak ada korban jiwa. Kerusakan materi meliputi:
12 kursi dan 5 meja hotel rusak
3 mobil pribadi dan 2 sepeda motor rusak kaca dan bodi
Pagar hotel jebol di dua titik
Beberapa spanduk dan atribut partai robek dan terbakar
Polrestabes Medan mengamankan 7 orang yang diduga provokator utama dari kedua kubu. Semua masih dalam pemeriksaan untuk penentuan status tersangka.
Respons Partai dan Pemerintah Daerah
Ketua DPP Golkar menyatakan “menyesali insiden” dan meminta semua pihak menahan diri. Ia menjanjikan Musda akan dilanjutkan dalam waktu dekat dengan pengamanan lebih ketat dan verifikasi ulang daftar pemilih. Gubernur Sumut mengimbau kader Golkar menjaga kondusivitas dan tidak membiarkan perbedaan pendapat berubah menjadi kekerasan. Kapolda Sumut menyatakan akan menindak tegas siapa pun yang terbukti memprovokasi atau melakukan kekerasan.
Pemkot Medan menyiapkan posko pengawasan di sekitar Hotel Grand Inna dan meminta warga sekitar tetap tenang. Beberapa tokoh masyarakat Medan menyayangkan kericuhan ini karena mencoreng citra Golkar sebagai partai besar di Sumut.
Kesimpulan
Musda Golkar Sumut yang seharusnya menjadi ajang demokrasi internal berubah menjadi ajang bentrok fisik antar pendukung. Kericuhan ini mencerminkan tingginya tensi politik di internal partai menjelang perebutan kekuasaan di tingkat provinsi. Meski tidak ada korban jiwa, 18 orang luka dan kerusakan materi menunjukkan betapa mudahnya perbedaan pendapat berubah menjadi kekerasan jika tidak dikelola dengan baik. Pihak kepolisian dan DPP Golkar kini punya pekerjaan rumah besar untuk memastikan Musda bisa dilanjutkan secara aman dan demokratis. Semoga insiden ini menjadi pelajaran agar demokrasi dijalankan dengan cara yang beradab, bukan dengan batu dan kursi terbang. Golkar Sumut butuh rekonsiliasi, bukan perpecahan lebih dalam.