Keponakan Thaksin Diminta Jadi Kandidat PM Thailand. Partai Pheu Thai secara resmi mengajukan Yodchanan Wongsawat, keponakan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, sebagai kandidat utama perdana menteri pada 16 Desember 2025. Pengumuman ini dilakukan menjelang pemilu umum yang dijadwalkan pada 8 Februari mendatang, setelah pembubaran parlemen baru-baru ini. Yodchanan, 46 tahun, yang merupakan putra dari mantan Perdana Menteri Somchai Wongsawat dan saudara perempuan Thaksin, Yaowapa, menjadi nama pertama dalam daftar tiga kandidat partai. Langkah ini menegaskan pengaruh keluarga Shinawatra yang masih kuat di politik Thailand, meski menghadapi berbagai tantangan hukum dan politik belakangan ini. BERITA VOLI
Latar Belakang Keluarga Shinawatra: Keponakan Thaksin Diminta Jadi Kandidat PM Thailand
Keluarga Shinawatra telah mendominasi politik Thailand selama dua dekade terakhir melalui partai-partai populis. Thaksin sendiri pernah memimpin negara sebelum digulingkan melalui kudeta pada 2006, diikuti saudarinya Yingluck yang juga digulingkan. Baru-baru ini, putri Thaksin, Paetongtarn Shinawatra, dicopot dari jabatan perdana menteri pada Agustus lalu karena pelanggaran etika. Kini, giliran keponakan Thaksin yang diajukan sebagai wajah baru. Pheu Thai, partai yang didirikan Thaksin, melihat Yodchanan sebagai kombinasi antara warisan keluarga dan generasi muda. Dua kandidat lain dalam daftar adalah Julapun Amornvivat, pemimpin partai saat ini, dan politisi veteran Suriya Juangroongruangkit. Pemilu mendatang jadi ujian bagi popularitas Pheu Thai yang sempat menurun setelah kehilangan kekuasaan.
Profil Yodchanan Wongsawat: Keponakan Thaksin Diminta Jadi Kandidat PM Thailand
Yodchanan adalah profesor teknik biomedis di universitas ternama di Bangkok, dengan gelar doktor dari Amerika Serikat. Ia pernah mencoba masuk politik pada 2014 dengan mencalonkan diri di Chiang Mai, basis kuat keluarga Shinawatra, tapi pemilu saat itu dibatalkan pengadilan akibat protes. Di usia 46 tahun, Yodchanan dianggap mewakili visi baru: kombinasi antara pengalaman akademis dan nilai populis keluarga. Ia sering puji Thaksin sebagai pemimpin yang bawa Thailand ke panggung global. Nominasi ini jadi strategi Pheu Thai untuk pertahankan dukungan pedesaan dan pemilih muda, sambil tunjukkan regenerasi di tengah kritik atas dominasi keluarga Shinawatra.
Tantangan dan Prospek Pemilu
Pemilu Februari mendatang dipicu pembubaran parlemen oleh Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang manfaatkan sentimen nasionalis pasca-konflik perbatasan dengan Kamboja. Pheu Thai harus hadapi penurunan popularitas setelah serangkaian kekalahan hukum bagi anggota keluarga Shinawatra. Nominasi Yodchanan bisa jadi senjata ganda: kuatkan basis loyal, tapi juga picu kritik dari kelompok pro-militer dan pro-kerajaan yang lihat keluarga ini sebagai ancaman. Partai janji fokus pada “reboot Thailand” dengan kebijakan ekonomi dan kesejahteraan. Hasil pemilu akan tentukan apakah dinasti Shinawatra masih punya daya tarik kuat di tengah perubahan politik Thailand.
Kesimpulan
Pengajuan keponakan Thaksin sebagai kandidat utama perdana menteri oleh Pheu Thai jadi sorotan utama menjelang pemilu Thailand. Yodchanan Wongsawat bawa harapan baru bagi partai yang ingin bangkit setelah kehilangan kekuasaan. Langkah ini perkuat narasi keluarga Shinawatra sebagai kekuatan abadi di politik populis Thailand. Meski tantangan besar dari oposisi dan isu hukum, nominasi ini bisa jadi momentum perebutan kembali pengaruh. Pemilu mendatang akan jadi ajang pembuktian apakah warisan Thaksin masih mampu menarik suara mayoritas. Politik Thailand tetap dinamis, dengan keluarga ini sebagai aktor sentral yang tak pernah benar-benar hilang dari panggung.