Pelanggan Warkop Kabur Usai Bau Sampah di Ciputat. Beberapa hari terakhir, tumpukan sampah di sekitar kolong flyover Ciputat dan sejumlah ruas jalan menjadi sorotan. Sampah yang tak diangkut selama berhari-hari, bahkan hingga sepekan, menimbulkan bau tak sedap yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu dampak langsung terasa pada usaha kecil seperti warung kopi. Pemilik warung di kolong flyover mengeluh omset menurun drastis karena pelanggan enggan bertahan lama. Mereka yang biasa nongkrong, termasuk pengemudi ojek online, kini memilih pergi begitu mencium bau sampah. Kondisi ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga memukul penghasilan warga yang mengandalkan usaha di lokasi tersebut. BERITA BOLA
Kronologi Penumpukan Sampah: Pelanggan Warkop Kabur Usai Bau Sampah di Ciputat
Masalah bermula ketika pengangkutan sampah terganggu akibat overload di tempat pembuangan akhir utama. Sampah mulai menumpuk sejak awal Desember, terutama di titik-titik ramai seperti kolong flyover, trotoar Jalan Dewi Sartika, Pasar Ciputat, dan Pasar Cimanggis. Tumpukan bisa mencapai ketinggian dua meter, dengan kantong plastik berisi limbah rumah tangga dan pasar yang dibiarkan begitu saja. Bau busuk semakin parah saat cuaca panas atau setelah hujan, karena proses pembusukan berlangsung cepat. Warga sekitar melaporkan sampah sudah tak diangkut selama tiga hingga tujuh hari, membuat situasi semakin tak tertahankan. Beberapa warga bahkan terpaksa memakai masker saat melintas, sementara yang lain ikut mengingatkan agar tidak lagi membuang sampah sembarangan di lokasi tersebut.
Dampak pada Usaha Lokal dan Warga: Pelanggan Warkop Kabur Usai Bau Sampah di Ciputat
Bau sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga berdampak ekonomi. Pemilik warung kopi di dekat tumpukan sampah mengaku warungnya yang biasa ramai kini sepi. Pelanggan, terutama yang datang untuk santai sambil minum kopi atau menunggu orderan, langsung kabur begitu mencium aroma busuk. “Sebelumnya rame, sekarang jarang ada yang beli,” keluh salah satu pemilik. Dampak serupa dirasakan pedagang pasar di sekitar Cimanggis, di mana omzet turun karena lingkungan tak nyaman. Selain itu, bau menyengat mengancam kesehatan, dengan lalat beterbangan dan risiko penyakit meningkat. Pengendara motor dan pejalan kaki juga terganggu, terutama saat lalu lintas padat di flyover. Kondisi ini memperburuk citra kawasan yang seharusnya menjadi pusat aktivitas warga.
Respons Pemerintah dan Harapan Warga
Pemerintah kota telah menyadari masalah ini dan melakukan penataan di tempat pembuangan akhir, termasuk proses seperti terasering untuk mengurangi beban. Petugas dari dinas terkait sudah turun ke lapangan untuk berkoordinasi dengan warga dan lurah setempat. Ada rencana pengangkutan malam hari untuk mempercepat pembersihan. Warga berharap solusi jangka panjang diterapkan, seperti penambahan armada angkut dan edukasi membuang sampah pada tempatnya. Beberapa bahkan secara sukarela menjadi relawan untuk mengawasi agar tidak ada lagi pembuangan liar.
Kesimpulan
Penumpukan sampah di Ciputat menunjukkan betapa pentingnya pengelolaan limbah yang baik di kota berkembang. Dampaknya tak hanya pada lingkungan, tapi juga kehidupan sehari-hari, seperti yang dialami pemilik warung kopi dan pelanggannya. Dengan respons cepat dari pemerintah dan kesadaran bersama warga, masalah ini bisa segera tertangani. Harapannya, Ciputat kembali nyaman dan ramai seperti sedia kala, tanpa gangguan bau yang membuat orang kabur. Situasi ini jadi pengingat bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama untuk kenyamanan semua.