Rusia Luncurkan 71 Misil ke Ukraina

Rusia Luncurkan 71 Misil ke Ukraina. Rusia kembali mengintensifkan serangan udaranya terhadap Ukraina dengan meluncurkan 71 misil dan 450 drone pada malam hingga dini hari 3 Februari 2026. Serangan ini menargetkan infrastruktur energi di berbagai wilayah, termasuk Kyiv, Kharkiv, Odesa, dan Dnipro, mengakhiri jeda sementara yang sempat disepakati antara Moskow dan Kyiv. Ukraina berhasil menembak jatuh 38 misil dan 412 drone, tapi sisanya menyebabkan kerusakan signifikan pada pembangkit listrik dan gardu induk. Di tengah suhu yang mencapai minus 20 derajat Celsius, jutaan warga kehilangan listrik dan pemanas, memperburuk krisis kemanusiaan di musim dingin. Serangan ini datang menjelang pembicaraan damai yang dijadwalkan di Istanbul, menimbulkan keraguan atas komitmen Rusia untuk gencatan senjata. INFO CASINO

Detail Serangan dan Jenis Senjata yang Digunakan: Rusia Luncurkan 71 Misil ke Ukraina

Serangan dimulai sekitar pukul 22.00 waktu setempat pada 2 Februari dan berlangsung hingga subuh keesokan harinya. Rusia menggunakan campuran misil balistik dan jelajah, termasuk Iskander-M, Kh-101, Kh-22, dan Kinzhal, yang diluncurkan dari darat, udara, dan laut. Drone Shahed-136 dan Gerbera mendominasi serangan, dengan lebih dari 300 unit Shahed yang dirancang untuk menghabiskan pertahanan udara Ukraina sebelum misil utama menyusul.
Ukraina mengerahkan sistem pertahanan seperti Patriot, IRIS-T, dan NASAMS untuk menangkis serangan. Komandan Angkatan Udara Ukraina Mykola Oleshchuk menyatakan bahwa 38 dari 71 misil berhasil dihancurkan, sementara 412 drone jatuh ke tangan pertahanan. Namun, volume serangan yang masif membuat sebagian lolos, menghantam target di enam wilayah utama. Di Kyiv, misil menghantam gardu induk di distrik Darnytskyi, sementara di Kharkiv, pembangkit CHPP-5 rusak parah. Odesa dan Dnipro juga terkena, dengan kerusakan pada fasilitas pemanas dan distribusi listrik.

Ini merupakan serangan terbesar sepanjang musim dingin 2025-2026, melampaui serangan sebelumnya pada akhir Desember. Rusia tampaknya memanfaatkan jeda sementara—yang disepakati akhir Januari untuk menghindari kehancuran total infrastruktur energi—untuk menimbun amunisi dan menunggu cuaca terburuk.

Dampak terhadap Infrastruktur dan Warga Sipil: Rusia Luncurkan 71 Misil ke Ukraina

Kerusakan utama terjadi pada sektor energi. Di Kharkiv, lebih dari 600.000 rumah tangga kehilangan listrik dan pemanas, membuat warga bertahan di suhu beku tanpa cahaya atau panas. Kyiv melaporkan pemadaman di distrik timur, memengaruhi 1.100 gedung apartemen. Odesa dan Vinnytsia mencatat puluhan ribu konsumen tanpa aliran listrik setelah gardu induk terkena. Perusahaan energi DTEK menyatakan ini serangan kesembilan terhadap asetnya sejak Oktober 2025, dengan perbaikan memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Setidaknya 18 orang terluka, termasuk di Kyiv di mana serpihan misil menghantam apartemen dan taman kanak-kanak. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan secara resmi, tapi risiko kesehatan meningkat karena dingin ekstrem. Rumah sakit beralih ke generator, tapi pasokan bahan bakar terbatas. Presiden Zelensky menyebut serangan ini sebagai upaya Rusia untuk “mematahkan semangat rakyat” menjelang pembicaraan damai.
Pemadaman juga mengganggu transportasi dan komunikasi. Kereta api di Kharkiv tertunda, sementara lalu lintas udara di sekitar Kyiv dibatasi. Bantuan darurat dari pemerintah Ukraina dan organisasi seperti Palang Merah mulai mengalir, termasuk genset portabel dan selimut termal untuk pengungsi internal.

Respons Internasional dan Konteks Pembicaraan Damai

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengutuk serangan ini sebagai “pembunuhan dingin” dan menjanjikan percepatan pengiriman pertahanan udara ke Ukraina. AS melalui juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa serangan ini membuktikan Rusia tidak serius dengan gencatan senjata yang dimediasi Washington. Uni Eropa menyerukan sanksi tambahan terhadap sektor energi Rusia sebagai balasan.
Di sisi Rusia, Kremlin membenarkan serangan sebagai “respons terhadap agresi Ukraina” di wilayah perbatasan, meski tidak ada bukti serangan Ukraina baru-baru ini. Presiden Putin menyatakan bahwa pembicaraan di Istanbul pada 5 Februari tetap berjalan, tapi dengan syarat Ukraina menarik pasukan dari wilayah yang diklaim Rusia.
Serangan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prospek damai. Analis menyebut ini sebagai taktik Rusia untuk memperkuat posisi negosiasi dengan melemahkan infrastruktur Ukraina sebelum musim semi, saat pertempuran darat bisa intensif lagi.

Kesimpulan

Peluncuran 71 misil oleh Rusia ke Ukraina pada 3 Februari 2026 menandai kembalinya strategi perang energi yang brutal, meninggalkan jutaan warga dalam kegelapan dan dingin. Meski Ukraina berhasil menangkis sebagian besar, kerusakan tetap parah dan memperpanjang penderitaan sipil di tengah musim dingin. Serangan ini juga merusak harapan pembicaraan damai mendatang, menunjukkan bahwa diplomasi masih rapuh di tengah konflik berkepanjangan. Bagi Ukraina, prioritas kini adalah pemulihan cepat dan penguatan pertahanan, sementara dunia internasional harus meningkatkan dukungan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Situasi ini sekali lagi menggarisbawahi urgensi solusi damai yang berkelanjutan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *