Trump Minta Putin Jeda Serangan Kyiv Seminggu. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan serangan ke wilayah Kyiv selama satu minggu penuh. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui wawancara eksklusif dengan Fox News pada malam 29 Januari 2026 waktu Washington. Menurut Trump, jeda tujuh hari tersebut diperlukan agar “bisa duduk bersama dan bicara serius” mengenai gencatan senjata jangka panjang serta rencana perdamaian yang lebih konkret. Permintaan ini muncul hanya beberapa hari setelah serangan drone Rusia terbesar dalam beberapa bulan menimpa infrastruktur energi Kyiv pada malam 28–29 Januari. Reaksi dari Moskow dan Kyiv langsung berbeda tajam, sementara dunia internasional menunggu apakah seruan Trump akan direspons nyata oleh kedua belah pihak. REVIEW FILM
Konteks Permintaan Trump Kepada Putin Untuk Jeda Serangan Kyiv Seminggu: Trump Minta Putin Jeda Serangan Kyiv Seminggu
Trump menyatakan bahwa jeda serangan selama seminggu akan menjadi “langkah baik untuk menunjukkan itikad baik” dari Rusia. Ia menegaskan bahwa selama periode itu tidak ada serangan rudal, drone, atau artileri yang menyasar Kyiv dan sekitarnya. Menurut Trump, tujuh hari tanpa serangan akan memberi ruang bagi negosiasi langsung antara delegasi Rusia dan Ukraina, dengan Amerika Serikat sebagai fasilitator utama. Ia juga menyebutkan bahwa jeda tersebut bisa menjadi dasar bagi gencatan senjata sementara yang lebih luas di seluruh garis depan.
Pernyataan Trump ini disampaikan setelah ia menerima briefing intelijen terbaru mengenai dampak serangan drone Rusia terhadap jaringan listrik Kyiv. Trump menyebut serangan tersebut “tidak perlu dan hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil”. Ia juga mengulangi posisinya bahwa perang harus segera diakhiri melalui kesepakatan yang “adil bagi semua pihak”, meski belum merinci bentuk kesepakatan tersebut.
Respons dari Moskow dan Kyiv Terhadap Permintaan Trump Untuk Jeda Serangan: Trump Minta Putin Jeda Serangan Kyiv Seminggu
Kremlin merespons pernyataan Trump dengan nada hati-hati namun tidak menutup pintu. Juru bicara Dmitry Peskov menyatakan bahwa Rusia “selalu terbuka terhadap dialog yang serius”, tetapi menekankan bahwa setiap jeda harus disertai jaminan bahwa Ukraina tidak akan menggunakan waktu tersebut untuk memperkuat posisi militer. Peskov menambahkan bahwa Moskow akan mempertimbangkan usulan Trump jika ada “langkah timbal balik yang konkret” dari Kyiv dan Washington.
Di Kyiv, Presiden Volodymyr Zelensky menyambut baik seruan jeda serangan, namun dengan syarat ketat. Zelensky menegaskan bahwa jeda harus mencakup seluruh wilayah Ukraina, bukan hanya Kyiv, dan harus diikuti penghentian total serangan rudal serta drone ke infrastruktur sipil. Ia juga menuntut jaminan keamanan nyata, termasuk pengiriman sistem pertahanan udara tambahan dari Barat selama periode jeda. Zelensky menyatakan: “Kami siap bicara, tapi tidak akan membiarkan jeda menjadi kesempatan bagi Rusia untuk mempersiapkan serangan lebih besar.”
Reaksi Internasional dan Situasi Lapangan
Uni Eropa melalui juru bicara tinggi untuk urusan luar negeri menyatakan mendukung setiap inisiatif yang dapat mengurangi penderitaan sipil dan membuka jalan dialog. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menekankan bahwa jeda harus diikuti komitmen nyata dari Rusia untuk menarik pasukan dari wilayah pendudukan. Amerika Serikat sendiri, melalui Departemen Luar Negeri, menyatakan bahwa tim diplomatik sedang mempersiapkan pembicaraan lanjutan jika jeda benar-benar terjadi.
Di lapangan, situasi di Kyiv pagi ini masih tegang. Pemadaman listrik bergilir masih berlangsung di beberapa distrik setelah serangan drone semalam. Tim perbaikan bekerja keras memulihkan gardu induk, namun beberapa kawasan diperkirakan baru normal dalam 3–5 hari. Pemerintah Ukraina meminta warga tetap waspada terhadap serangan lanjutan meski ada seruan jeda dari Trump.
Kesimpulan
Seruan Donald Trump agar Vladimir Putin menghentikan serangan ke Kyiv selama satu minggu penuh menjadi sorotan utama diplomasi internasional akhir Januari 2026. Permintaan tersebut muncul setelah serangan drone Rusia terbesar dalam beberapa bulan menimbulkan kerusakan infrastruktur energi signifikan di ibu kota Ukraina. Respons dari Moskow dan Kyiv menunjukkan adanya ruang dialog, namun keduanya tetap menuntut jaminan dan komitmen yang jelas dari pihak lawan. Jika jeda benar-benar terjadi, tujuh hari tersebut bisa menjadi jendela kecil untuk negosiasi yang lebih substantif. Namun jika ditolak atau dilanggar, tekanan terhadap Rusia dari Barat kemungkinan akan semakin meningkat. Situasi di lapangan dan meja diplomasi masih sangat dinamis—dan dunia menunggu langkah nyata berikutnya dari Kremlin dan Kyiv. Semoga seruan Trump ini menjadi awal dari de-eskalasi yang sesungguhnya, bukan hanya retorika sementara.