Rusia Serang Drone ke Odesa, Rusia Lanjut Ofensif. Rusia melancarkan serangan drone besar-besaran ke Odesa pada malam 26-27 Januari 2026, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai puluhan lainnya, sementara pasukan daratnya terus melanjutkan ofensif di front timur Ukraina, terutama di sekitar Pokrovsk, Donetsk. Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung, menunjukkan ketegangan tetap tinggi meski ada pembicaraan damai yang dimediasi AS. REVIEW FILM
Serangan Drone ke Odesa dan Dampaknya: Rusia Serang Drone ke Odesa, Rusia Lanjut Ofensif
Serangan drone Rusia ke Odesa melibatkan lebih dari 50 unit drone, termasuk model Shahed yang ditingkatkan jangkauan dan daya hancurannya. Drone-drone ini menargetkan infrastruktur sipil, termasuk bangunan tempat tinggal, sekolah, biara Ortodoks Holy Dormition, serta fasilitas industri dan pelabuhan. Api berkobar di beberapa lokasi, termasuk rumah-rumah warga dan bangunan bersejarah, sementara puing-puing berserakan di jalanan kota.
Korban tewas awalnya tiga orang, termasuk seorang pria yang ditemukan dari reruntuhan, kemudian bertambah menjadi empat setelah seorang lansia meninggal di rumah sakit akibat luka-lukanya. Lebih dari 30 orang terluka, di antaranya dua anak perempuan dan seorang wanita hamil 39 minggu. Gubernur wilayah Odesa, Oleh Kiper, menyebut serangan ini sebagai teror berkelanjutan, dengan kota pelabuhan ini menjadi sasaran berulang dalam beberapa bulan terakhir sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap tanker minyak Rusia di Laut Hitam. Serangan malam itu juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur energi dan transportasi, memperburuk kondisi warga di musim dingin yang ekstrem.
Ofensif Darat Rusia di Front Timur: Rusia Serang Drone ke Odesa, Rusia Lanjut Ofensif
Di sisi darat, Rusia melanjutkan tekanan ofensif di Donetsk Oblast, khususnya arah Pokrovsk yang menjadi titik panas utama sejak akhir 2025. Pasukan Rusia menggunakan taktik infiltrasi dengan kelompok kecil untuk menyusup garis pertahanan Ukraina, mengumpulkan pasukan di belakang untuk serangan lanjutan, serta memanfaatkan drone fiber-optic jarak jauh untuk dukungan logistik dan pengintaian.
Meski kemajuan lambat—rata-rata hanya puluhan meter per hari—Rusia terus menekan di utara dan timur Pokrovsk, termasuk sekitar Hryshyne, Rodynske, dan Myrnohrad. Laporan dari komandan Ukraina menunjukkan Rusia membawa cadangan baru dan intensifkan penggunaan drone Molniya untuk misi mothership serta pengiriman suplai. Di wilayah lain seperti Slovyansk dan Kostyantynivka-Druzhkivka, Rusia juga mencatat kemajuan kecil melalui infiltrasi. Secara keseluruhan, laju ofensif Rusia tetap lambat dibandingkan klaim Kremlin, tapi tekanan konstan ini memaksa Ukraina mempertahankan posisi dengan sumber daya terbatas.
Konteks Diplomasi dan Respons Ukraina
Serangan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah pembicaraan damai di Abu Dhabi yang dimediasi AS, dengan putaran berikutnya dijadwalkan awal Februari. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam serangan sebagai upaya teror untuk melemahkan posisi Kyiv di meja perundingan, sambil mendesak tekanan internasional lebih besar terhadap Moskow. Ukraina sendiri melanjutkan serangan balik dengan drone dan rudal ke target militer Rusia di belakang garis depan, termasuk konsentrasi pasukan dan depot amunisi. Namun, serangan berulang ke kota-kota seperti Odesa menambah beban pada infrastruktur sipil dan moral warga.
Kesimpulan
Serangan drone ke Odesa dan kelanjutan ofensif Rusia di front timur menegaskan bahwa konflik belum menunjukkan tanda mereda, meski ada upaya diplomasi. Dengan korban sipil bertambah dan tekanan militer tetap tinggi di Pokrovsk serta wilayah sekitarnya, situasi di lapangan semakin rumit. Bagi Ukraina, ini jadi ujian ketahanan di tengah musim dingin dan negosiasi yang sensitif; bagi Rusia, ini bagian dari strategi menguras daya tahan lawan. Tanpa terobosan signifikan di meja perundingan, eskalasi seperti ini kemungkinan besar masih akan berlanjut, meninggalkan dampak mendalam bagi warga sipil di kedua belah pihak.