Israel menahan 100 Warga Palestina di Tepi Barat. Tentara Israel melakukan serangkaian razia besar-besaran di Tepi Barat pada Rabu pagi, 10 Desember 2025, yang berujung pada penahanan hampir 100 warga Palestina. Operasi ini menargetkan kota-kota utara seperti Nablus dan Salfit, serta wilayah sekitar Yerusalem dan Jenin, dengan tuduhan keterlibatan aktivis Hamas dan mantan tahanan. Menurut laporan Palestinian Prisoners’ Club, razia ini bagian dari eskalasi sejak Oktober 2023, di mana lebih dari 21.000 warga Palestina ditahan di Tepi Barat. Penahanan ini picu kecaman dari kelompok hak asasi seperti Amnesty International, yang sebut operasi ini “pembalasan kolektif” yang langgar hukum internasional. Di tengah perang Gaza yang sudah tewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina di Tepi Barat, razia ini tambah tekanan pada situasi kemanusiaan yang sudah rapuh. BERITA BOLA
Detail Razia dan Lokasi Penahanan: Israel menahan 100 Warga Palestina di Tepi Barat
Razia dimulai dini hari di berbagai wilayah Tepi Barat, dengan fokus utama di Nablus, di mana pasukan Israel geledah puluhan rumah dan tangkap sekitar 30 orang, termasuk mantan tahanan politik. Operasi meluas ke Salfit, Arraba selatan Jenin, serta Abu Dis dan Al-Eizariya timur Yerusalem, di mana warga dilaporkan diinterogasi di lapangan setelah ditahan. Di Nablus, pasukan Israel gunakan drone dan kendaraan lapis baja untuk razia, picu bentrokan singkat dengan warga lokal yang tolak geledah. Salah satu korban adalah Sheikh Maher al-Kharraz, pejabat Hamas senior di Nablus, yang ditahan lagi setelah bebas sebelumnya—ia sudah ditahan berkali-kali oleh Israel dan otoritas Palestina. Mantan Wakil Perdana Menteri Palestina Nasser al-Shaer juga sempat ditahan tapi dibebaskan setelah interogasi singkat. Total, razia ini tangkap hampir 100 orang, mayoritas pria muda yang dituduh hubungan dengan Hamas atau kelompok bersenjata.
Tuduhan dan Dampak Kemanusiaan: Israel menahan 100 Warga Palestina di Tepi Barat
Israel klaim razia ini target “aktivis Hamas dan mantan tahanan” yang diduga rencanakan serangan. Tapi kelompok hak asasi sebut ini pelanggaran sistematis: sejak Oktober 2023, lebih dari 15.800 warga Palestina ditahan di Tepi Barat, termasuk 610 wanita dan 1.600 anak. Banyak ditahan administratif—tanpa dakwaan atau sidang—berdasarkan bukti rahasia, yang bahkan pengacara tak boleh lihat. Dampaknya parah: keluarga terpecah, bisnis tutup, dan komunitas trauma. Palestinian Red Crescent Society laporkan tiga tahanan dibebaskan Selasa malam setelah dipukuli parah, tunjukkan kekerasan rutin. Di Tepi Barat, kekerasan settler naik 1.860 insiden sejak 2023, sering dengan dukungan militer. Razia ini tambah korban: satu pemuda Palestina tewas di tahanan Selasa malam, Abdul Rahman al-Sabateen (21 tahun) dari Husan dekat Betlehem, usai ditahan Juni lalu.
Respons Palestina dan Internasional
Otoritas Palestina (PA) kecam razia sebagai “teror negara” yang langgar gencatan senjata Gaza. Kantor Media Tahanan Palestina sebut penahanan ini “pembalasan” atas dukungan warga ke Gaza, dengan 1.092 tewas di Tepi Barat sejak 2023. Hamas sebut razia ini bukti Israel tak hentikan agresi. Internasional: PBB sebut kekerasan di Tepi Barat “tak terkendali,” dengan OHCHR catat 81 pelanggaran terhadap pembela hak asasi sejak Oktober. Amnesty tuntut investigasi independen, bilang penahanan administratif “penjara hitam.” AS dan UE kritik kekerasan settler, tapi dukung hak Israel bela diri. PA koordinasi dengan PBB untuk bantuan, sementara warga Tepi Barat gelar protes damai di Nablus Kamis pagi, tuntut bebaskan tahanan.
Dampak Jangka Panjang dan Eskalasi
Razia ini tingkatkan ketegangan: sejak Oktober 2023, 944 tewas dan 7.000 luka di Tepi Barat, termasuk serangan settler. Penahanan massal ini hambat rekonstruksi, picu migrasi, dan perkuat dukungan Hamas di kalangan muda. Pakar bilang ini siklus: razia picu bentrokan, bentrokan picu razia lagi. PA khawatir hilang kendali, sementara Israel sebut perlu untuk keamanan. Di Gaza, gencatan rapuh tambah tekanan. Internasional dorong dialog, tapi tanpa hentikan kekerasan, situasi makin buruk.
Kesimpulan
Penahanan hampir 100 warga Palestina di Tepi Barat oleh Israel jadi babak baru eskalasi yang pilu. Dari razia Nablus hingga tuntutan hak asasi, ini tunjukkan siklus kekerasan yang tak kunjung putus. Korban tak bersalah—termasuk anak dan wanita—harus prioritas, bukan politik. Palestina butuh keadilan, Israel keamanan—semoga dialog PBB jadi jalan keluar. Situasi Tepi Barat rawan, tapi harapan damai tetap ada, asal semua pihak kompromi.